Behind the scene

Cerita 1

Peniti, jarum pentul, baterai jam, cermin, tisu, dkk 1000an
Lem besi, kapur bagus, gunting kuku, dkk 2000an…
Ayo…ayo…pak…ibu…cuma seribua duaribuan aja semuanya…ayo dek…

*Suara bapak2 tua dengan gagang kaca matanya yang bewarna emas dan rompi pinknya serta topi coklatnya yang lusuh menawarkan dagangannya pada para penumpang bis damri tujuan Cibiru*

Yak, bapak2 itu yang selalu daku temui ketika ke Bandung di dalam bis yang sama dengan dagangan yang sama dan harga yang sama pula selama 4 tahun ini. Daku tak tahu namanya, yang jelas selama daku berseliweran di Bandung ini karena emank pekerjaan yang daku geluti dua tahun lalu bahkan sebelum resmi bekerja pun, 2 tahun sebelumnya daku sudah terbiasa dengan rutinitas ke Bandung karena emank diminta menemani kakak pembina yang sekarang adalah rekan kerja daku untuk tugas ke Bandung dan membawaku selalu bertemu dengan si bapak pedagang asongan ini. Yak, kami berdua emank lebih sering ngeteng kalo ke Bandung, makanya selalu ketemu sama bapak pedagang ini.

Rekan kerja daku selalu membeli apapun dari si bapak, baik tisu, jarum pentul, peniti, dll hanya karena niatan ingin membantu si bapak.

Rekanku: Berapa sih mi penghasilannya orang yang jual beginian?

Daku: Ya… sedikitlah, orang paling gede jualannya 2000, mana jualannya juga bukan barang pokok.

Rekanku: Makanya, kalo ada orang yg jual kayak gini2 beli aja, itu juga pesan Abah aku, setidaknya mereka lebih baik dibandingkan orang yang tidak mau usaha dan hanya minta2 dijalan. Niatin aja untuk membantu.

Percakapan diatas terjadi beberapa tahun lalu, kurang lebih seperti itu dan emank nggak hanya di Bandung, tapi dimana pun kalo lagi jalan sama rekan kerja daku ini dan ketemu pedagang2 asongan model beginian, dia sering banget beli2 yang menurut daku nggak penting banget alias buat apa sih ka? Selalu saja daku ngomong gitu dan dia selalu menjawab, “beli aja, nggak apa2 kasihan sih bapaknya, yang begini lebih pantas ditolong daripada yang hanya minta2”

Cerita 2

Diriku hanyalah seorang pengamen, pulang malam hanya bawa uang recehan…na na na na..(lupa lagunya)

Kalo yang suka ngeteng2 kayak daku pasti udah nggak asing sama lagu ini. Iya lagu ini sering kali dinyanyikan sama para pengamen2 jalanan yang sering daku temui kalo lagi dari Sawangan mau ke terminal Depok. Selama hampir 6 tahun di Depok makin lama koq pengamennya juga makin nambah,haha… ketika ke terminal yang normalnya alias nggak pake macet kalo naik angkot cuma butuh 20 menitan saja, namun pengamen yang keluar masuk angkot bisa 5-6 orang, huaaaa… banyak bener kan ya, mana kadang kalo nggak dikasih marah2 lagi,kena gerutu deh kita yang seangkot,haha..

Nah, kalo kasus pengamen ini , daku juga punya teman namanya Obeh yang keranjingan banget ngasih ke pengamen, tahu alasannya?? Yak, Obeh ini ngasih dengan jumlah yang biasa2 aja koq, yak kalo ada gope yak gope, kalo nggak ada ya 1000 atau 2000. Setelah diskusi daku dengan Obeh, dari yang cerita2 geje sampai ujung2nya ngalor ngidul entah kemana dan sampailah kepada pembahasan pengemen, obeh says: “meski nggak tahu apa mereka ini bener2 butuh atau nggak tahu apa uang yang kita kasih bener2 dipakai buat hal2 yang positif atau malahan bisa negatif, tapi setidaknya dengan memberi, melatih rasa Iba atau agar rasa peka untuk membantu orang lain tetap ada.” Ding..dong…Majleb!

Dari dua cerita teman daku, ku dapatkan dua motif yang berbeda namun tujuannya sama yakni untuk berbagi dan berbelas kasih. Yak, semua orang pasti memiliki pandangan masing2 dalam menyikapi suatu hal, sehingga motifnya pun juga ikut berbeda. Namun yang pasti jangan sampai kebaikan hati meninggalkan diri ini sekalipun sebentar.

Berbuat baiklah, karena semua orang yang kau temui sedang berjuang dalam pergumulan yang berat (Philo of Alexandria)

Jadi begimana dengan kalian? Apa motifmu dibalik aksimu? 😀

Iklan

12 Comments Add yours

  1. capung2 berkata:

    saling berbagi dgn org yg kurang beruntung.. krn kt tak tahu dr mulut siapa doa kebaikan itu akan diijabah oleh-Nya.

    thx utk postingannya !

  2. jampang berkata:

    kalau saya ya tergantung mood 😀
    kalau bisa ngasih yang ngasih, kalau nggak ya nggak ngedumel dengan mikir kalau nanti dikasih dia itu akan begini dan begitu

    1. amy syahmid berkata:

      haha..kadang aku jg gitu 🙂

  3. Terkadang kita butuh kisah2 kecil ini untuk melatih utk meminimalisir potensi kekikiran yg ada dalam diri kita

    1. amy syahmid berkata:

      yupz..sepakat mas 🙂

  4. lindaleenk berkata:

    Kalau pengamen yg nyanyinya ngasal trs nyindir trs nodong aku malah ga ngasih sih, ilang respect 8|

    1. amy syahmid berkata:

      haha..iya kadang ada tuh yg model begitu, ehjadi bikin orang yg tadinya mau ngasih jadi males dah 😆

  5. Iwan Yuliyanto berkata:

    Nice, mbak Amy.

    Cerita pertama.
    Saya sepakat, butuh gak butuh … beli saja untuk meringankan bebannya.
    Terus agar tidak menjadi mubazir barang yang telah dibelinya itu (karena memang tidak lagi butuh), ada baiknya kalo diberikan ke anak pengemis pada perjalanan berikutnya. Insya Allah, pahalanya bisa dobel.

    Cerita kedua.
    Selalu siapkan uang receh di saku daripada dibiarkan tercecer di rumah. Meskipun cuma gopek, tapi kalo ngasihnya sambil senyum, Insya Allah pengamennya akan senang menerimanya.

    Dari semua itu hikmahnya memang sebagai bentuk rasa syukur bahwa hidup kita jauh lebih beruntung daripada mereka.

    1. amy syahmid berkata:

      iya sepakat,kan berbagi merupakan salah satu bentuk bersyukur ya pak?

      makasih sharenya pak Iwan 🙂

Komen Yuukk!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s