Merasa bersalah sama pak supir

Bandung lagi…Bandung lagi…
kota yang sering aku kunjungi karena pekerjaan yg ku geluti menuntutku untuk terkadang harus pergi ke Bandung. Bahkan, sebelum aku bekerja resmi di kantor, aku sering menemani teman aku untuk kesana, sehingga sebagian jalan2 di Bandung pun sudah sangat familiar untukku.
Suasana Bandung memang sangat kusukai tak seperti di Depok atau Kalimantan dan karena memang dasarnya aku paling suka dengan cuaca dingin dibanding panas.
Di Bandung, setelah selesai urusan pekerjaan kami sekitar pukul 13.00 WIB, aku dan ka G***r berkunjung ke rumah saudaranya Ka G***R yang berada di dekat dengan RS. Hasan Sadikin Bandung. Anehnya, entah kenapa, setiap kami kesana pasti hujan! yah, emang kebetulan kali yah?? (atau sebenarnya kita ja kali yah yg apes,hahaha).
Sekitar jam 15.00 WIB kita sampai di sana. kita pun bercerita banyak hal dan karena kebetulan juga isteri kakaknya Ka G***R adalah teman sekelas aku waktu SMA, So nyambung deh ceritanya.
Oh, iya sebelum kami ke sana, kami pun pergi ke salah satu travel terkenal C*P*G**T* dekat rumah sakit tersebut untuk memesan travel agar tidak kehabisan bangku dan tidak kemalaman pulangnya. Tapi ternyata, cabang disana sudah berubah arah tujuannya, dan memberitahu kami kalau untuk tujuan yang kita inginkan yaitu margonda adanya di C*P*G**T* Pasteur. So, kia pun memutuskan untuk naik travel yg lain B*R*Y* karena lebih dekat dan tahu persis lokasinya. Namun, kalau travel B*R*Y* nggak ada yang langsung ke Depok, paling dekat turunnya di Lenteng Agung, namun karena nggak ada pilihan lain dan takut kemalaman kita memutuskan untuk naik travel ini.
Kembali ke saudara ka G***R, setelah bercengkrama selama 1 jam, kami pun memutuskan pulang tepat jam 16.15 WIB karena travel kami berangkat jam 17.00 WIB.
Kami pun berpamitan, namun sayang ka G***r belum sempat bertemu kakaknya karena lagi jaga di RS. Karena bingung naik angkot apa untuk ke travel, maka kita memutuskan naik taksi. Pak supir yang tahu persis tujuan kita, dan ka G***r yang sedikit lupa sedikit ingat, meminta minimal 15rb untuk uang taksi. ini berarti, secara tidak langsung kami mengambil kesimpulan sendiri kalau tempatnya sangat dekat. Tapi nggak apa – apa lah dari pada bingung naik angkot.
Ternyata kesimpulan kami tepat, argo kami sebenarnya hanya 8rb lebih untuk sampai di travel, namun gara2 kita masih penasaran sm travel C*P*G**T* yang letaknya juga daerah Pasteur dan karena masih teriming-imingi untuk turun di margonda aja yg lebih dekat dari pada di Lenteng agung,maka kita pun menanyakan sama pak supir yang memang sangat tahu letak C*P*G**T* yang hanya berjarak kira2 1 km lebih dari B*R*Y*, kami pun sumeringah dan memutuskan untuk memilih C*P*G**T*. Dengan harap-harap cemas, takut kehabisan bangku dan jika itu terjadi berarti kita harus kembali ke B*R*Y*, sedangkan waktunya sudah mepet banget.
JDAAAAAAARRRRR…..informasi awal ternyata salah, C*P*G**T* di pasteur tidak meyediakan tujuan untuk arah margonda. kita pun shock tingkat dewa, karena waktu kita tinggal 15 menit lagi untuk kembali ke B*R*Y*. Kita yang begitu benar2 kecewa karena informasi yang diberikan salah serta panik takut ketinggalan travel B*R*Y* meminta pak supir untuk segera mutar arah balik. Pak supir tanpa sepatah kata pun mengikuti instruksi kita. Namun, aku dan Ka G***R karena kepanikan kami, sibuk mengomeli pak supir:
Kami : Pak yang cepat yah..
Pak supir: iya neng, ni macet, ada lampu merah didepan soalnya..
kami: mutarnya dimana sih pak?
pak supir: itu neng di depan
kami: mana pak, koq belum muter2, depan mana pak?
pak supir: itu neng pas lampu merah.
kami: masih lampu merah ya pak?
pak supir: iya neng
akhirnya, tertahan 2 kali karena lampu merah
kami: aduh bapak koq lama bgt, cb jngan ambil jalur sini atau terobos aja pak, kn cm belok, duh ini mah bakal nggak keburu, aduh bapaknya sih kelamaan.
Pak supir:(hanya diam)
kami: (menyadari) oh iya itu ada polisi

setelah lampu hijau, taksi kami mutar arah dan dalam pak supir pun dengan sabar dengan sisa waktu 7 menit membawa kami ke B*R*Y*. kami pun sampai dengan sisa waktu kurang 2 menit. dan betapa shocknya aku, karena ongkosnya pun tetap 15 ribu. Aku pun cengok seketika itu.
Alhamdulillah, ternyata B*R*Y* pun belum berangkat dan masih 30 menit lagi. tapi aku dan ka G***r pun merasa sangat bersalah, karena telah mengomeli pak supir yang sebenarnya bukan salah dia. bahkan seharusnya, klo untuk hitungan taksi di jakarta, seandainya dia menyalakan argonya, mungkin ongkosnya itu lebih dari 15rb. Tapi, bapak itu dengan wajah tenang dan sabar mendengarkan ocehan kita dan tidak meminta uang lebih untuk taksinya. Benar-benar pak supir yang sabar dan membuat kami merasa sangat bersalah karena marah bukan pada tempatnya. Bayangkan saja, jika pak sopirnya kesal, bisa saja ia meminta lebih, bahkan demi tidak menyusahkan kita menyebrang, dia menurunkan kita di jembatan penyebrangan. “Pak supir: di sini aja neng, supaya enak nyebrangnya” yang memang sudah dekat dengan B*R*Y*. Waduh..pak supir mah baik pisan,pokonya maafkan kita yang kemarin ngomel-ngomel nggak jelas yaaahhh…:)

PELAJARAN: NGOMEL HARUS PADA TEMPATNYA, JANGAN MELEMPARKAN KESALAHAN PADA ORANG LAIN.

Iklan

Komen Yuukk!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s